Menurut saya bisa, dan ini adalah contoh dari ilmu yang dapat ditemukan secara tidak sengaja tersebut.“ Dennis Gabor (1900-1979), Penemu Holografi ”
Tahun 1960, dalam dunia industri, dihebohkan penggalakan teknik laser yang menghasilkan hologram untuk dimanfaatkan secara komersial. Teknik ini digunakan secara luas, antara lain untuk menguji desain produk tertentu. Para seniman visual menggunakannya pula dalam menampilkan kreasi dan gagasan mutakhir.
Teknologi yang menjadi latar belakang terciptanya hologram ini lahir dari fisikawan Hongaria, Dennis Gabor, yang mengembangkan teori holografi sejak tahun 1947. Gabor lahir 5 Juni 1900 di Budapest, Hongaria. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Bertalan Gabor dan Adrienne. Dalam kehidupannya, Gabor termasuk orang yang berada. Ayahnya, seorang direktur di salah satu perusahaan pertambangan Semenjak kecil ia sudah mencintai ilmu fisika.
Ia mendapat pendidikan di Budapest dan Berlin. Pada tahun 1924, ia lulus dan mendapatkan gelar diploma dari Technische Hochschule Berlin. Gabor pun berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berhasil mendapatkan gelar sarjana.
Setelah lulus, Gabor mengembangkan karier intelektualnya di perusahaan Siemens dan Halske AG di Jerman. Namun, pada 1933, setelah Hitler berkuasa ia melarikan diri dari Nazi ke Inggris. Di negara Britania ini Gabor bekerja dalam pengembangan Departemen British Thomson-Houston di Rugby, Warwickshire.
Pada 1947, saat bekerja di Departemen British Thomson-Houston, Gabor menemukan holografi. Penemuan yang brilian ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Gabor. Awalnya Gabor sedang berusaha meneliti mikroskop elektron. Ia mengembangkan teori untuk mengembangkan kemampuan mikroskop elektron itu.
Pada saat ia berusaha membuktikan teorinya tersebut ia tidak menggunakan pancaran elektron, tetapi justru menggunakan cahaya. Dengan percobaan itu, Gabor malah menemukan teori holografi, ilmu yang memproduksi hologram. Dengan teori tersebut, ia berhasil menciptakan hologram pertama di dunia. Istilah hologram ciptaan Gabor berasal dari Bahasa Yunani holo dan gramma, untuk teknik ini, yang berarti "pesan menyeluruh".
Sebagian besar literatur menyebutkan, hologram dibuat Gabor melalui proses pembelahduaan selajur sinar laser. Lajur pertama, disebut "acuan", menyinari selembar lempeng peka foto atau film, sedangkan lajur kedua menyinari objek untuk diholografikan. Cahaya yang direfleksikan objek ini bertabrakan di atas lempengan tadi, dan menciptakan pola gabungan yang, setelah dikembangkan lagi, menampilkan citra 3D. Pada waktu itu, hologram hanya membutuhkan satu ruangan, tempat citra tertentu ditembakkan sehingga seolah-olah menjadi bagian dari ruangan itu sendiri.
Citra tadi, dengan sendirinya, menimbulkan kesan nyata dan sangat fantastis. Namun sayang, hologram ciptaan Gabor tidak tersedia secara komersial sampai pengenalan laser pada 1960.
Dalam perkembangannya sinar yang dibutuhkan untuk menciptakan hologram yang lebih baik adalah sinar laser yang baru dikembangkan pada tahun 1960. Hologram ini berhasil dikembangkan oleh Pribram. Ia sangat jeli membaca konsep holografi sehingga menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak.
Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam sel-sel otak, melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan hologram.
Pada tahun 1979, dua ilmuwan Soviet berhasil mengadaptasi temuan Dennis Gabor dengan sinehologram. Eizykman dan Fihman mulai bekerja sama di bidang hologram, ketika keduanya menjadi guru besar sinema di Universitas Paris. Dengan alat yang dirancang khusus, mereka membuat empat sinehologram berukuran 35 mm dan 70 mm.
Itulah yang dipertunjukkan di College of France, Paris. Dengan dana sekitar 58 ribu dolar AS dari Fond d`Intervention Culturelle, keduanya kemudian mulai bergelut dengan film holografi berukuran 126 mm. Penggunaan film lebar ini merupakan langkah pertama untuk membuat sinehologram yang bisa ditonton lebih dari dua orang dalam waktu bersamaan.
Ketika itu pula mereka menerima uluran tangan dari perusahaan Prancis Aerospatiale, yang mengirimkan satu tim insinyur dan seniman untuk belajar ke GK Lasers di Rugby, Inggris Berkat temuannya melalui hologram, Dennis Gabor berhasil meraih Hadiah Nobel Fisika pada 1971. Di samping dianugerahi Penghargaan Nobel, Gabor menjadi anggota Royal Society London pada 1956, dan anggota kehormatan Akademi Ilmiah Hongaria pada 1964.
Dennis Gabor meninggal pada 9 Februari 1979, pada usia 79 tahun. Selain penemu hologram, Gabor juga dikenal sebagai penemu teori sintesis granular yang meneliti bagaimana manusia berkomunikasi dan mendengar.
“Cerita di Balik Penemuan-penemuan Ilmiah”
Cerita di balik karya-karya besar para saintis menarik untuk dikaji. Sebuah cerita dapat menjadi inspirasi dan motivasi dalam berkarya. Ada satu hal yang menarik dari cerita-cerita di balik penemuan besar di bidang sains. Ternyata, tidak selamanya sesuatu yang hebat dilatarbelakangi oleh sesuatu yang luar bisaa, diantaranya ada yang "hanya" disebabkan oleh ketidaksengajaan.
Daniel E. Koshland Jr., seorang profesor Biokimia molekuler dan Biologi sel di University of California, dalam artikelnya membagi proses-proses penemuan ilmiah menjadi tiga kategori (Science vol. 317, hal. 761). Kategori tersebut adalah "Charge, Challenge, dan Chance", yang kemudian disebutnya dengan teori Cha-Cha-Cha.
Penemuan yang termasuk dalam kategori Charge merupakan penemuan-penemuan yang didasarkan pada masalah-masalah yang sudah jelas namun belum ada penyelesaiannya atau penjelasannya secara ilmiah. Koshland memberikan contoh untuk kategori ini adalah penemuan teori gravitasi oleh Newton. Semua orang pada saat itu tentu tahu bahwa benda akan selalu jatuh ke bawah, namun tidak tahu bagaimana hal itu dapat terjadi. Setiap orang dapat saja mengalami hal yang sama dengan Newton, melihat buah apel jatuh dari pohon, tetapi tidak menyadari di balik kejadian itu ada suatu teori besar yang bisa muncul.
Kategori kedua, Challenge merupakan penemuan yang muncul sebagai hasil dari adanya pertentangan atau anomali-anomali yang muncul dari suatu teori yang telah ada.
Temuan manusia tidak ada yang sempurna, hal inilah yang menyebabkan bagaimana suatu ilmu dan teori dapat berkembang. Seorang saintis sejati akan tertantang untuk mencari penjelasan dan penyelesaian terhadap anomali dan pertentangan yang ada, dia akan berusaha untuk mencarinya.
Contoh penemuan jenis ini adalah penemuan teori atom oleh Niels Bohr. Bohr melihat kelemahan-kelemahan pada teori atom Dalton dan Thomson yang telah ada sebelumnya. Selanjutnya melalui serangkaian pengamatan Bohr menelurkan teori baru tentang struktur atom yang dapat memperbaiki kekurangan dari teori yang telah ada.
Demikianlah, suatu teori akan selalu mengalami penyempurnaan selama masih ditemui kelemahan seiring perkembangan zaman. Suatu teori dapat diyakini kebenarannya pada suatu kurun waktu tertentu dan bisa saja di waktu berikutnya tidak akan relevan lagi karena adanya teori baru yang lebih baik. Suatu teori dari hasil pemikiran manusia bersifat relatif dan tentatif, yang absolut dan pasti hanyalah ilmu dan kebenaran dari Tuhan.
Kategori yang ketiga dari teori Cha-Cha-Cha adalah Chance, merupakan penemuan-penemuan yang terjadi karena ketidaksengajaan, ada unsur "kecelakaan", bisaa disebut dengan serendipity. Penemuan jenis ini hanya dapat dilakukan oleh para saintis yang memiliki "pikiran yang siap", demikian Louis Pasteur menjelaskannya. Yang termasuk kategori ini misalnya penemuan Teflon oleh Roy J. Plunkett, sinar-X oleh W.C. Rontgen, dan termasuk penemuan sifat optis aktif oleh Louis Pasteur.
Terkait dengan kategori yang ketiga ini, ternyata banyak para saintis yang mengakui sendiri adanya serendipity dalam karya-karyanya. Royston M. Robert menulis sebuah buku yang mengumpulkan berbagai penemuan di bidang sains yang didasari oleh serendipity. Royston membagi penemuan atas ketidaksengajaan ini menjadi dua, yaitu serendipity (sejati) dan serendipity semu (pseudoserendipity). Penemuan yang termasuk kategori serendipity merupakan penemuan yang murni karena ketidaksengajaan, penemuan atas hal-hal yang sebenarnya tidak sedang dicari.
Sedangkan pseudoserendipity merupakan penemuan yang tidak disengaja atas sesuatu yang sedang dicari.
Seperti telah disebutkan di atas, salah satu contoh penemuan yang bernuansa serendipity adalah penemuan Teflon. Penemuan Teflon ini dimulai ketika Dr. Plunkett (ahli kimia Du Pont) sedang mencari suatu bahan pendingin yang tidak beracun. Pada suatu hari Plunkett membuka tangki yang berisi gas tetrafluoroetilen, berharap untuk dapat membuat bahan pendingin yang dicarinya. Tetapi Plunkett dan asistennya, Jack Rebok heran karena tidak ada gas yang keluar.
Padahal dari berat tangki menunjukkan tangki itu seharusnya penuh dengan fluorokarbon dalam bentuk gas. Bukannya membuang tangki dan mengambil tangki lain untuk melanjutkan penelitian bahan pendinginnya, Plunkett justru memutuskan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Setelah memutuskan bahwa kesalahan tidak terletak pada katupnya, ia menggergaji tangki hingga terbuka dan melihat dalamnya. Di dalam tangki itu dia menemukan bubuk warna putih seperti lilin dan, sebagai seorang ahli kimia, ia menyadari hal tersebut pasti ada artinya. Molekul-molekul gas tetrafluoroetilen mengalami polimerisasi sampai pada tingkat tertentu sehingga molekul-molekul tersebut menjadi zat padat. Terdorong oleh penemuannya yang secara kebetulan dan oleh sifat-sifat polimer yang luar bisaa ini, Plunkett dan para ahli kimia Du Pont segera menemukan cara untuk menghasilkan "politetrafluoroetilen" .
Royston memberikan contoh untuk temuan pseudoserendipity adalah penemuan proses vulkanisasi karet oleh Charles Goodyear. Proses ini ditemukan ketika Goodyear secara tak sengaja menjatuhkan campuran karet dan belerang ke sebuah kompor yang panas.
Sebenarnya sudah lama Goodyear melakukan pencarian agar karet menjadi sesuatu yang berguna. Contoh lain adalah penemuan cara mengukur volume benda tak beraturan oleh Archimedes. Penemuan ini terjadi pada saat Archimedes berada di sebuah tempat pemandian umum, ketika dilihatnya air melimpah keluar dari bak mandi saat ia masuk ke dalamnya. Ia menyadari bahwa volume limpahan air itu sama dengan jumlah anggota badannya yang dimasukkan ke dalam air.
Begitu mendapatkan idenya, dia segera keluar dari bak mandi dan lari dalam keadaan telanjang sambil berseru "Eureka!" Pada saat itu sebenarnya Archimedes sedang mendapatkan tugas dari raja bagaimana mengetahui logam dasar sebuah mahkota raja.
Demikian pula halnya ketika Alfred Nobel melihat tetesan gliserin yang tak sengaja jatuh ke dalam bahan pengepakan berpori sebagai suatu larutan yang mungkin bersifat mudah meledak yang selama itu dicari-carinya.
Semua muncul dari ketidaksengajaan. Mungkin saja kita akan mengalami suatu serendity, oleh karena itu tetaplah selalu dengan "the prepared mind" - pikiran yang siap untuk menerima dan menganalisis serendipity menjadi suatu hal yang bermanfaat. Namun, suatu penemuan besar tidak hanya muncul dari satu momen "eureka" saja. Ada jalan panjang untuk mewujudkan suatu teori. Sebagaimana Newton, untuk memantapkan teori gravitasinya dia mengembangkan kalkulus dan hukum-hukum fisika yang disusun dalam karya besarnya "Principia" (Science vol. 317, hal. 762).
Ket: Cerita-cerita penemuan di bidang sains dikutip dari "Serendipity", Royston M. Robert)
3 komentar :
wakaka,,keren2..jadi ngarep2 nemu ilmu juga aku,,*ceritanya ga sengaja juga wakaka
trus ilmu jadi terkenal ke orang2 haha
Ilmu tidak sengaja.
Dari Membaja Blog yang tidak saya sengaja saya mendapatkan ilmu yang tidak sengaja pula dari situ muncul ide yg tidak sengaja untuk posting blog saya.
Trimakasih sob...
Regards....
All; Thank's atas komentarnya he....
Posting Komentar